Latest Post
Bagi Alumni ITS yang ingin berbagi tulisan-tulisan untuk dimuat di Blog ini, kami persilahkan menghubungi Email: purwoko.e28@gmail.com dan CC kan ke: dewa.yuniardi@gmail.com
Tampilkan postingan dengan label Teknologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teknologi. Tampilkan semua postingan

ITS dan PT Solusi-247 Kembangkan Radar Maritim

SURABAYA (9/5): Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dan perusahaan penyedia layanan teknologi komunikasi PT Solusi-247 menjalin kerja sama untuk mengembangkan "marine radar" (radar maritim).

Kerja sama itu ditandatangani oleh Direktur Utama PT Solusi-247, Beno Pradekso, bersama Pembantu Rektor IV ITS Prof Dr Darminto di Gedung Rektorat ITS Surabaya, Rabu.

Beno Pradekso mengatakan pihaknya kini sedang gencar melakukan riset untuk pengembangan produk perusahaannya, karena itu pihaknya menjalin kerja sama dengan beberapa perguruan tinggi, seperti ITS.

"Beberapa bidang riset yang akan kami lakukan dengan ITS antara lain Marine Radar, Electric Support Measure (ESM), Radio Direction Finding (RDF) Receiver , Electronic Chart Display and Information System (ECDIS), dan Integrated Surveillance framework," katanya.

Menurut dia, perusahaannya telah melakukan riset ESM hampir 90 persen dan telah diuji di Pelabuhan Tanjung Priok.

"Pengawasan laut yang belum optimal, karena keterbatasan fasilitas menjadi dasar bagi Solusi 247 untuk mendalami aplikasi teknologi produk itu di bidang maritim," katanya.

Hingga saat ini, persoalan mengenai kecelakaan kapal, "illegal traffic", pencurian ikan, hingga pembajakan kapal nelayan menjadi masalah tak terpecahkan karena lemahnya aktivitas monitoring.

"Oleh karena itu, kami mengajak ITS, kami memiliki pengetahuan tentang sensor dan radarnya, sedangkan ITS punya pengetahuan di bidang maritim dan perkapalannya," katanya.

Beno mengatakan ITS adalah mitra yang sangat sesuai untuk melaksanakan kerja sama ini, karena ITS unggul di bidang maritim, lalu keberadaan sentra nelayan, pelabuhan internasional, dan armada pertahanan laut di Surabaya juga menjadi nilai tambah tersendiri.

Senada dengan itu, Prof Dr Darminto mengatakan kerja sama itu bukan pertama kalinya ITS bekerja sama dengan pihak swasta.

"Kami berharap produk-produk yang dikembangkan nanti dapat benar-benar digunakan untuk kepentingan masyarakat," katanya.

Untuk tahap awal, kerja sama akan dilangsungkan selama dua tahun. "Tidak perlu kita menggunakan produk asing untuk aplikasi ICT di Indonesia. Lebih baik kita buat sendiri dan kita kuasai teknologinya," katanya. (*/Ant) 

Kampanyekan “Cinta Maritim”

Himpunan Mahasiswa Teknik Sistem Perkapalan (Himasiskal) ITS Surabaya mengampanyekan “Cinta Maritim” lewat berbagai lomba dalam “Marine Icon 2013″ di Taman Prestasi, Surabaya pada 9-11 Mei.

“Marine Icon 2013 meliputi Marine Diesel Assembling (lomba bongkar pasang mesin diesel), Water Bike Race Contest (kontes sepeda air), Dragon Boat Race (lomba dayung), Fotografi Kemaritiman, dan Esai Kemaritiman,” kata Sekretaris Jurusan Teknik Sistem Perkapalan (JTSP) Dr I Made Aryana ST MT di Taman Prestasi, Surabaya, Kamis.

Disela pembukaan “Marine Icon 2013″ dengan maskot bernama “Cak Piston” itu, ia mengatakan acara ini sebagai ajang untuk menumbuhkan tunas-tunas bangsa yang cinta kepada dunia maritim.

Selain itu, katanya, kegiatan itu juga bisa menjadi salah satu wahana untuk mengembangkan “skill” yang dimiliki siswa maupun mahasiswa yang turut bertanding.

“Ini merupakan sebuah pembelajaran sebelum mereka terjun di dunia kerja. Jika masyarakat sudah cinta kepada dunia maritim, maka produksi industri serta pariwisata kemaritiman juga bisa berkembang,” katanya.
Sementara itu, Presiden BEM ITS Zaid Marhi Nugraha mengaku sangat senang dengan adanya acara ini. “Acara ini sangat bagus, karena lomba yang ada sangat sesuai dengan keprofesian di Jurusan Teknik Sistem Perkapalan itu sendiri,” katanya.

Apalagi, antusiasme peserta dan pengunjung juga terlihat sangat bagus. “Itu cerminan bahwa Marine Icon sudah diminati di masyarakat,” katanya.

Dalam laporannya, Ketua Panitia Marine Icon, Puji Dhian Wijaya, mengatakan Marine Icon tahun lalu hanya ada empat kegiatan, namun tahun ini ada lima kegiatan.

“Tahun sebelumnya tanpa Esai Kemaritiman. Selain itu, tahun ini juga tertunda dari 19 April menjadi 9 Mei, karena Taman Prestasi menjadi salah satu lokasi kunjungan peserta SOM II APEC,” katanya.

Tapi, katanya, penundaan itu justru membawa dampak yang baik pada pelaksanaan Marine Icon, karena panitia dan peserta lebih siap, sehingga peserta yang hadir juga bisa lebih banyak, karena ujian nasional (UN) tingkat SMA sudah terlaksana.

Sementara itu, Ketua Himasiskal, Nanang Suroso, mengatakan Marine Icon 2013 yang mengusung tema “Jaya Maritimku, Jembatan Menuju Indonesia Emas” itu bisa menjadi jembatan untuk mengeksplorasi kekayaan laut yang dimiliki bangsa Indonesia.
 

Insiden Kebakaran Mobil Listrik, Tim ITS Tak Perlu Berkecil Hati


Mobil listrik Institut Teknologi 10 Nopember (ITS) terbakar di tol Banyu Urip km 6.800. Mobil itu terbakar dalam perjalanannya menuju pameran Auto Show di Kediri.

"Kejadiannya Jumat (26/4/2013) pukul 22.10 WIB malam," kata petugas tol Jatim 2 Aiptu Soleh, Sabtu (27/4/2013).

Soleh menerangkan, saat itu mobil dalam perjalanan dari ITS menuju Kediri. Mobil diangkut menggunakan truk derek. Saat melaju di tol, sopir truk, Sarji, melihat ada asap keluar dari bagian depan mobil.

"Takut terjadi apa-apa, sopir dan keneknya menurunkan mobil. Setelah diturunkan, mobil malah terbakar," tambah Soleh.

Api dengan cepat melalap mobil berplat L 1 ITS tersebut. Bagian depan mobil dan jok habis terbakar. Dua PMK yang kemudian datang langsung melakukan pemadaman. Pemadaman dilakukan selama 1 jam. Yang tersisa dari mobil berwarna putih itu hanyalah bagian bawah, roda dan bemper belakang.

Menteri BUMN Dahlan Iskan mendukung pengembangan mobil listrik oleh ITS. Dahlan pun memuji mobil listrik yang dinamai Electronic City (EC) tersebut.

"Bagus sekali, bagus sekali. Bentuknya juga sangat bagus," ujar Dahlan Iskan saat menghadiri Milad Yayasan Pondok Pesantren Al-Ikhlas dan Silaturahmi Jama'ah Fida' Kubro, di Kejayan, Pasuruan, Minggu (27/1/2013).

Penyataan itu diungkapkan Dahlan saat ditanya proyek mobil listrik yang sedang dikembangkan ITS. Menurut dia, mobil EC tersebut masih perlu dikembangkan dan disempurnakan agar benar-benar siap diproduksi massal.

"Masih harus dikembangkan lagi terutama masalah kecepatan," jelasnya.

Dahlan sendiri mengaku akan terus bekerja keras agar mobil listrik segera bisa diproduksi secara massal dan dinikmati oleh rakyat.

"Mobil listrik ini harus terus berjalan, terus dikembangkan dan harus berhasil. Mobil listrik ini harus sukses karena problem negara ini terlalu berat jika bergantung pada BBM," tandasnya.

Muhammad Nuh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menegaskan, mobil listrik Electronic Car (EC) ITS version 1.0 buatan Institut Teknologi 10 Nopember (ITS) Surabaya tetap direncanakan menjadi kendaraan resmi yang akan dipakai para delegasi dari puluhan negara dalam KTT APEC di Bali, Oktober mendatang.

Insiden terbakarnya mobil ini di KM 7 tol Dupak arah Satelit, Surabaya, kemarin (26/4/2013), kata Nuh hal yang biasa.

“Wajarlah kalau sampai terbakar. Apalagi saya dengar terjadi karena konsleting. Wong mobil komersil yang sudah dilempar ke pasaran saja bisa ditarik kembali karena terjadi insiden,” kata Nuh.

Dia juga meminta tim ITS tidak perlu berkecil hati dengan insiden kebakaran itu. Yang harus dilakukan kata Mantan Rektor ITS ini adalah sesegera mungkin memperbaiki kesalahan dan penyebab terbakarnya mobil listrik tersebut.

“Tidak perlu takut, tidak perlu panik. Perbaiki kesalahannya dan tampil lagi dengan peforma seperti sedia kala. Insya Allah, mobil buatan anak bangsa ini tetap akan jadi kendaraan resmi KTT APEC di Bali,” ungkap Muhammad Nuh, Sabtu (27/4/2013).

Seperti diketahui, kebakaran pada mobil listrik ITS ini terjadi akibat hubungan pendek arus listrik (konsleting) pada alarm dan central lock pintu. Dr. Muhammad Nur Yuniarto Kepala Laboratorium Sistem Otomasi Industri ITS menegaskan, mobil terbakar saat akan dibawa ke Kediri untuk pameran.

"Sebelumnya kami memohon maaf jika kejadian tersebut membuat nama ITS sedikit terbawa-bawa sekaligus semua yang ada hubungannya dengan ITS", demikian pernyataan dari Dr. Muhammad Nur Yuniarto

Dr. Muhammad Nur Yuniarto menyatakan hasil investigasi sbb:

" Hasil investigasi semalam sampai dengan pagi tadi. Api dipicu dari hubungan arus pendek yang terjadi di sistem alarm dan central lock yang baru dipasang. Alarm ini diberi power sendiri, seluruh battery utama sdh kita disconnect. Battery alarm ini tidak kita cabut karena mengaktifkan sistem alarm dan central lock. Battery sistem alarm inilah yang mengalami short circuit. Dan kebetulan di dalamnya ada beberapa material yang mudah terbakar (Polyurethane). Inilah yang memicu terjadinya api. Kegagalan sistem alarm dan central lock ini bisa terjadi di mobil jenis apapun. Dan naasnya mobil listrik kami menjadi korban akibat kegagalan sistem alarm ini. Mohon maaf sekali lagi atas kejadian ini"

Dr. Muhammad Nur Yuniarto Kepala Laboratorium Sistem Otomasi Industri ITS pada suarasurabaya.net menegaskan, tidak ada masalah pada batere-batere sumber daya mobil listrik ITS. "Yang bermasalah hanya alarm dan central lock," katanya.

Kesimpulan ini setelah mobil listrik ITS bernopol L 1 ITS ini dievakuasi di Lab ITS. Di sana tim perakit mobil itu menguji semua kemungkinan penyebab kebakaran. "Mulanya kita mengira baterenya. Tapi setelah kita diskonek pada sirkuit, tidak ada masalah. Justru belakangan kita ketahui penyebabnya di alarm dan central lock," katanya.

Diakui dia, saat merakit mobil ini, komponen alarm dan central lock tidak mendapat prioritas utama. "Kami mengutamakan pengembangan batere dan desain mobilnya. Alarm dan Central Lock kita belikan yang kualitas jelek. Ternyata malah jadi masalah," kata dia.

Konsleting itu sendiri terjadi lantaran anggota tim perakit mobil listrik lupa menonaktifkan kedua piranti itu.

"Sekali lagi mohon maaf semuanya dan terima kasih atas dukungan yang diberikan. Semoga ada hikmah yang bisa dipetik khususnya bagi tim dan kita semua pada umumnya. Insya Alloh, hal seperti tidak akan terjadi lagi di masa mendatang." tutup Nur.

Mudah2an masyarakat mengerti bahwa mobil listrik ini masih dalam fase R&D, jadi tidak men-judge yang negatif dengan adanya insiden ini.

Perlu diketahu bahwa untuk membangun sebuah industri otomotif harus melalui beberapa fase yaitu:

1. Fase Konsep dan Perancangan
2. Fase Prototype dan Riset
3. Fase Persiapan Produksi dan Riset Produksi
4. Fase Produksi Massal

Perlu dipahami bahwa mobil yg masih dalam fase ke 2 yaitu Prototytpe dan Riset seperti Mobil Listrik karya ITS itu masih memungkinkan terjadi permasalahan-permasalahan yg harus dievaluasi dan diadakan perbaikan sebelum masuk ke fase berikutnya.
 

Sapu Angin 8 Siap berlaga di Shell Eco Marathon Asia 201

Sapu Angin 8 Karya Mahasiswa ITS
TRIBUNNEWS.COM,SURABAYA -  Setelah tiga tahun berturut-turut meraih prestasi membanggakan di ajang Shell Eco-Marathon Asia, ITS meluncurkan mobil hemat bahan bakar dan ramah lingkungan sapu angin 8 (SA 8).

Peluncuran SA 8 dilakukan rektor ITS Prof Tri Yogi Yuwono serta dihadiri mantan menteri sumber daya dan energi prof Rahardi Ramlan serta disaksikan ratusan siswa dan praktisi otomotif di. Jatim Expo, surabaya, Sabtu (27/4/2013).

Berbeda dengan sapu angin 7, SA 8 memiliki berat yang lebih ringan, hanya 100 kg.

Dosen Pembimbing Witantyo optimis dengan berat tersebut tingkat efisiensi bahan bakarnya lebih tinggi.

"Kalau SA 7 dengan berat 145 kg bisa irit 167 km/liter. Kini SA 8 dengan beart 100 kg, kami targetkan bisa irit sampai 200 hingga 300 km/liter,"terangnya saat ditemui surya.co.id(Tribunnews.com Network)  usai acara.

Untuk menurunkan berat mobil, pihaknya harus merombak beberap bagian diantaranya rem.

Jika sebelumnya memakai rem motor, kini pakai rem sepeda hidrolik.

Sementara bodynya, tetap memakai fiber glass namun dengan ketebalan yang lebih ringan. Begitu juga dengan sistem penggeraknya yang dibuat seringan mungkin.

Sementara untuk ukurannya, pihaknya memutuskan untuk memakai ukuran minimum yang diperbolehkan. Yakni panjang 260 cm, lebar 125 cm dan tinggi 115 cm.

"Mesinnya juga harus diupgrade agar lebih ringan karena kunci irit harus ringan. Kalau tidak ringan tidak bisa,"terangnya.

Sementara untuk bahan bakar, SA 8 menggunakan bio diesel yang ramah lingkungan.

Witantyo optimis mobil berwarna putih ini akan mengulang sukses tahun lalu. Bahkan bisa memecahkan rekor yang dibuat sapu angin 2 menyabet combustion grand prize dan gasoline fuel award untuk kelas urban concept dengan mesin internal combustion berbahan bakar bensin yang mampu menempuh jarak Rp 237,8 km/liter.

"Tahun ini kami target bisa menempuh 167 km/jam. Semoga bisa tercapai,"harapnya.

Dosen Pembimbing Tim Sapu Angin, Witantyo (keempat kiri) menjelaskan spesifikasi mobil konsep hemat bahan bakar dan ramah lingkungan Sapu Angin 8 (SA 8) kepada Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof.Dr.Ir. Tri Yogi Yuwono, DEA (kelima kiri)
Tim ITS Surabaya menargetkan mobil hemat energi "Sapu Angin 8" mampu menempuh jarak sejauh 300 kilometer dengan satu liter bahan bakar biodiesel.

Prestasi itu diharapkan dapat dicapai saat berlaga dalam ajang "Shell Eco-Marathon Asia 2013" di Sirkuit Sepang, Malaysia, 4-7 Juli, kata dosen pembimbing SA-8 Wityanto di Surabaya, Sabtu..

"Dengan bobot lebih ringan dari 145 kilogram pada tahun lalu menjadi 110 kilogram, Sapu Angin 8 lebih cepat. Kalau tahun lalu bisa hemat hingga 167 kilometer/liter, kali ini bisa 300 kilometer/liter," katanya.

Di sela-sela peluncuran mobil SA-8 yang dilakukan Rektor ITS Prof Tri Yogi Yuwono, ia menjelaskan target itu dimaksudkan untuk memecahkan rekor SA-2 pada tahun 2010 yang mencatat effisiensi hingga 237,8 kilometer/liter.

"Rekor SA-2 yang berbahan bakar gasoline fuel itu hingga kini belum terpecahkan, karena itu SA-8 akan mencoba memecahkan rekor itu, sebab SA-7 mampu mencatat effisiensi hingga 167 kilometer/liter. Pesaing kami sebenarnya ITB dan Thailand, tapi tim Thailand beda kelas," katanya.

Senada dengan itu, manajer tim teknis SA-8 Septian Suryadani menjelaskan saat berlatih pada tiga minggu lalu, SA-8 mampu mencatat 130 kilometer/liter, padahal kondisi jalan bukan sirkuit dan bodi belum diperbaiki.

"Kami sudah mengerjakan mobil SA-8 yang akan bertarung pada kelas 'urban concept' sejak enam bulan lalu. Secara perhitungan, kami mampu menghemat hingga 360 kilometer/liter, tapi kami menargetkan untuk mampu memecahkan rekor tertinggi yang diraih SA-2," katanya.

Ditanya kendala yang dihadapi, ia mengatakan kesulitan ada pada proses pengerjaan yang ada komponen dari impor, upaya mencari titik optimum dari SA-8, dan dana yang diikhtiarkan melalui sponsor.

"Tahun ini merupakan tahun ke-empat bagi ITS untuk SEMA di Malaysia itu dan kami tetap optimistis dari tahun ke tahun," katanya, didampingi manajer umum tim SA-8, Arif Aulia R.

Pada 2013, SEMA 2013 diikuti 150 tim dari 16 negara, bahkan dari Indonesia sendiri ada 20 tim dari ITB, USU, UI, UPI, ITS, PNJ, Polnep, UGM, UB, STKIP Bandung, UNS, Unesa, UNJ, dan APKRIN.
 

Mahasiswa ITS Menyulap Air Garam Jadi Pembangkit Listrik

Satu lagi persembahan prestasi dari mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Kali ini, tim bernama Viktori 51 berhasil menggondol jawara pertama dalam Lomba Karya Cipta Maritim Nasional (Lokarina) besutan Himpunan Mahasiswa Teknik Perkapalan (Himatekpal).  

Tim Viktori 51 digawangi oleh tiga mahasiswa Teknik Elektro, yakni Mochammad Wahyudi, Gede Bayu A J, dan Deckky Resdyanto S sukses menumbangkan 20 finalis lain yang berasal dari sembilan universitas di babak final. Karya berjudul Mini Solar Pond, Inovasi Pemanfaatan Kolam Air Garam Sebagai Sumber Energi Listrik Alternatif Skala Rumah Tangga di Daerah Pesisir Madura itu mengantarkan ketiganya menjadi yang terbaik di Lokarina 2013.

Mochammad Wahyudi mengaku kaget timnya bisa meraih juara. Pasalnya, mereka masih merasa kurang persiapan saat presentasi. "Salah satu anggota tim kami saja ada yang telat saat presentasi. Kami juga heran saat diumumkan sebagai juaranya," kata Wahyudi, seperti dinukil dari ITS Online, Rabu (24/4/2013).

Karya tiga sekawan itu merupakan suatu inovasi pembangkit listrik berbasis kolam surya dengan memanfaatkan energi yang dihasilkan dari panasnya garam. Terutama di daerah Madura. "Madura adalah salah satu penghasil garam, jadi bisa diaplikasikan di sana," tutur Gede.

Dia menjelaskan, kolam yang akan digunakan mereka buat dari sebuah bak yang terisi air garam. Sehingga bagian bawahnya akan panas oleh garam tersebut. "Panas tersebut akan memanaskan cairan yang nantinya dapat menghasilkan uap. Uap tersebut akan menggerakkan turbin, sehingga terjadilah pembangkit listrik," urainya.

Wahyudi menambahkan, sampai saat ini kolam solar di Indonesia masih dalam penelitian dan belum ada yang bisa terealisasi. Maka dia berharap, penelitian tersebut bisa diaplikasikan di tempat-tempat penghasil garam. "Misi kami adalah menciptakan solar pond yang pertama di Indonesia," ungkap Wahyudi.
Dua tim yang mendapatkan juara adalah tim Viktori 51 dan The Ganners. (Foto: dok ITS)

Bersihkan Laut dengan The Ganers

Inovasi mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya di bidang maritim mendapat pengakuan di tingkat nasional. Sebab, selain tim Viktori 51 yang dinobatkan sebagai juara pertama, tim ITS lainnya, yakni The Ganers berhasil meraih tempat ketiga.

Penamaan tim diambil dari nama karya mereka, yakni The Garbage Cleaner Ship (The Ganers). Karya berupa Inovasi Teknologi Pembersih Sampah Laut Efektif dan Ramah Lingkungan dalam Upaya Meningkatkan Potensi Kelautan di Teluk Jakarta itu dinilai sebagai inovasi baru di bidang kemaritiman.

Salah seorang anggota The Ganers, Khidam Aulia menjelaskan, dalam karya tersebut mereka membuat sebuah kapal pembersih di teluk. Sebab, lanjutnya, semakin lama laut akan semakin kotor jika tidak dipelihara.

The Ganers, kata mahasiswa Teknik Kelautan itu, menjadi alternatif untuk mengatasi persoalan tersebut. "Oleh karena itu, kami buat suatu teknologi yang mampu membantu permasalahan tersebut," urai Khidam, seperti disitat dari ITS Online, Rabu (24/4/2013).

Selain dua tim ITS yang merebut posisi satu dan tiga, perwakilan mahasiswa Universitas Indonesia (UI) juga sukses meraih tempat kedua. Sedangkan Universitas Darma Persada (Unsada) merebut juara harapan satu disusul oleh Institut Pertanian Bogor (IPB) yang memperoleh juara harapan kedua.

Lokarina 2013 diikuti oleh 78 tim pada babak penyisihan. Sementara itu, di babak final hanya tersisa 20 tim dari sembilan universitas se-Nusantara yang beradu untuk ke luar sebagai juara. Dari 20 tim itu, tujuh di antaranya merupakan tim dari ITS.
 

ITS Kenalkan Alat Perontok Padi

Mesin perontok padi buatan ITS untuk masyarakat Desa
Meski ilmu pengetahuan dan teknologi terus berkembang, sebagian besar petani di Indonesia masih menggunakan cara tradisional dalam merontokkan padi. Namun, menggebuk padi dengan tangan ternyata berisiko kehilangan hasil panen lebih tinggi.

Salah satu daerah di mana penduduknya masih menggunakan cara tersebut adalah Desa Pakal, Kecamatan Benowo, Surabaya. Untuk itu, Himpunan Mahasiswa Teknik Material dan Metalurgi (HMMT) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya berinisiatif membuat alat perontok padi.

Melalui kegiatan Social Development (Solvent), HMMT melakukan sosialisasi penggunaan alat kepada masyarakat Desa Pakal. Beruntung, alat buatan Material Techno Club dan Departemen Pengabdian Masyarakat HMMT FTI ITS itu mendapat sambutan baik dari masyarakat setempat.

Dalam sosialisasi tersebut, Penanggung Jawab Acara Solvent Trendy Leo Pratama mengungkapkan beberapa keunggulan dari alat perontok padi itu.

"Di antaranya, kecepatan proses perontokan lebih mudah, kecepatan putar dapat diatur dengan cara mengganti diameter pully, serta alat tersebut dapat dipindahkan dengan mudah," ungkap Trendy, seperti dikutip dari ITS Online, Selasa (23/4/2013).

Dia menjelaskan, alat perontok padi produk mereka terbilang berbeda dengan perontok padi umumnnya. Perbedaan tersebut terletak pada segi hemat bahan bakar. "Kami menggunakan water pump thresher yang digunakan mampu menghemat bahan bakar. Kami juga menggunakan jenis material yang baik sehingga nantinya tidak mudah terkorosi,'' jelasnya.

Alat yang dibuat selama tiga minggu itu menghabiskan dana Rp2,7 juta. Nantinya, kata Trendy, alat tersebut akan diberikan kepada masyarakat Pakal untuk meningkatkan hasil pertanian mereka.

Dalam acara bertemakan teknologi sederhana, murah, dan multifungsi untuk petani Indonesia tersebut juga hadir anggota Dinas Pertanian Surabaya Tamtomo Prayitno. Dia menjelaskan perilaku apa saja yang harus dilakukan pascapanen agar hasil panen padi meningkat.

Rangkaian Silver Parade 3 ini disertai dengan pengenalan seni pewayangan Jawa lewat wayang card bagi anak-anak. Selain itu, juga dilakukan kegiatan penanaman tanaman obat keluarga (toga) bersama masyarakat.

Dari kegiatan tersebut, 20 tanaman toga berhasil ditanam di daerah Pakal. ''Harapan kami, dengan adanya Solvent ini, mahasiswa ITS dapat memberikan manfaat untuk masyarakat sekitar Surabaya,'' tutur Trendy. (Margaret Puspitarini)
 

Fin Komodo, Mobil Tangguh Karya Arek ITS

Belum banyak masyarakat tahu tentang Komodo, mobil cruiser mungil dengan kemampuan offroad. Mobil handal ini diciptakan oleh Ibnu Susilo, seorang alumni ITS yang sudah malang melintang di dunia otomotif dan aeronautika. Mobil ini disebut sebagai mobil dengan formula perhitungan yang seratus persen buatan Indonesia. Kecanggihan dan keandalan Komodo membuat mobil ini dilirik untuk diproduksi dalam skala yang lebih luas dengan market internasional.

Hampir tidak ada yang berbeda tampilan fisik yang dimiliki Komodo dengan mobil offroad lainnya. Dibuat dengan model kap terbuka dengan struktur metal membuat Komodo terlihat gagah dan siap untuk dikendarai di medan-medan sulit. Hanya saja yang menjadi perbedaan mendasar adalah ukuran, Komodo memiliki bodi lebih kecil dibanding kendaraan offroad lainnya.

Bobot yang dimiliki Komodo sendiri sangat ringan sehingga power yang diperlukan untuk melaju relatif lebih kecil, akibatnya konsumsi bahan bakarnya pun menjadi sangat irit. Untuk melintasi hutan dengan jarak tempuh sepanjang 100 kilometer dapat dilalui dalam 6-7 jam dengan konsumsi bahan bakar kurang lebih hanya 5 liter. Sedangkan kapasitas tangki Komodo adalah sebesar 21 liter, sehingga dapat bertahan di dalam hutan hampir selama 4 - 5 hari perjalanan siang hari.


Fungsinya pun beragam, disamping untuk misi penjelajah atau survei. Komodo juga sangat efektif digunakan sebagai kendaraan dengan fungsi pengawasan suatu wilayah. Komodo juga dapat digunakan untuk mengangkut beban hingga seberat 250 kilogram, ini berarti Komodo juga dapat berfungsi sebagai kendaraan utility. Apalagi kendaraan ini memiliki fitur self recovery yang memungkinkan Komodo untuk tidak terbalik saat jumping, "Jadi sampai saat ini belum ada yang bisa menggulingkan," ungkap Ibnu

Kelebihan lain dari Komodo adalah tingkat kestabilannya yang tinggi, bahkan untuk medan offroad yang sangat ekstrem sekalipun. "Bahkan kalau ada tanjakan setinggi 1 meter sekalipun, itu hanya dilompati saja oleh Komodo," ujar Ibnu Susilo. Stabilitas ini didapat dari desain khusus yang dikembangkan oleh para engineer Komodo dengan perhitungan matematika dan persamaan keseimbangan yang akurat untuk setiap komponennya. Meski begitu Ibnu menambahkan bahwa kendaraan ini juga menawarkan kenyamanan dan keamanan kelas tinggi. "Jadi kalau dipakai jumping nggak bakal terasa kayak jatuh, lembut aja, seperti naik sedan," tambah Ibnu.



Ibnu Susilo, kreator Komodo sendiri sudah memiliki jam terbang yang tinggi di bidang otomotif dan aeronautika, baik di tingkat nasional maupun internasional. Semenjak lulus dari jurusan Teknik Mesin ITS, Ibnu pun bekerja di IPTN. Tangan dinginnya turut membidani lahirnya pesawat N-250 Gatotkaca sebagai design integration configurator. Saat memproduksi mobil nasional Maleo pun Ibnu Susilo turut menyumbangkan tenaganya sebagai head design engineer.

Ketertarikannya dalam bidang otomotif dan aeronautika memang bukan hal baru, bahkan sejak mahasiswa pun Ibnu sangat terobsesi dengan kedua hal diatas. Saat mengajukan judul TA pun ia mengangkat judul Rancang Bangun Prototype Pesawat Terbang Ultra Light Model Flight Bike, saat itu dalam imajinasinya Ibnu ingin membangun sepeda motor yang bisa terbang. Judul itu pun disetujui di bawah bimbingan Prof Djati Nursuhud.

Meski sudah ada permintaan dari Hamburgh (Germany), Seatlle (US), Malaysia, dan Uni Emirat Arab namun Ibnu belum ingin mengekspor mobil inovatifnya ini. Ijin ekspornya masih perlu waktu panjang, maka kami fokus untuk permintaan dalam negeri dulu, ungkap Ibnu. (ap/mtb)



Spesifikasi Fin Komodo type KD 250 AT

Mesin: Four Stroke, 250 CC
Max Momen Puntir: 17,6 Nm / 5500 Rpm
Max. Horse Power: 14 HP/7000 Rpm
Compression Ratio: 10 : 1
Sistem Pendingin: Pendingin Air
Bahan Bakar: Bensin Premium (rekom Pertamax)
Kapasitas Tangki: 21 Liter
Stater: Elektrik
Transmisi: CVT Otomatis, Maju, Netral, Mundur
Kapasitas Oli Transmisi : 1,2 liter, SAE 10 - 30W
Kapasitas Oli GearBox: 200 CC, SAE 40W
Sistem Penggerak: 2 roda belakang dengan sprocket
Kecepatan Max: 60 Km/Jam
Rangka: Tubular dan bagasi
Steering Systems: Rack and Pinion
Suspensi Depan: Fully independent double wishbone dengan per keong
Suspensi Belakang: Fully independent double wishbone dengan per keong
Rem Depan: 2 buah Hidrolik Cakram
Rem Belakang: Hidrolik Cakram
Ban Depan: 25 X 8 X 12
Ban Belakang: 25 X 10 X 12
Ground Clearance: 300 mm
Jarak Sumbu Roda: 2000 mm
Jarak Roda: 1400 mm
Panjang Total: 2650 mm
Lebar Total: 1750 mm
Tinggi Total: 1460 mm
Berat Kosong: 320 Kg
Kapasitas Angkut: 250 Kg barang
Kapasitas Penumpang: 2 (dua) penumpang
Seat Belt: Menggunakan sistem 4 titik.

Lihat Foto Produk:     Foto Produk1   Foto Produk2

Lihat Gallery Foto:  Galeri1   Galeri2   Galeri3   Galeri4   Action


Untuk melihat detail dari Fin Komodo, dapat mengunjungi:

 

Mahasiswa ITS Ajarkan Kelola Sampah Daun Jadi Tambang Emas

Pengolahan sampah menjadi barang ekonomis sudah banyak dilakukan berbagai pihak. Salah satunya adalah civitas academica Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Nanik Heri.

Karya Nanik dalam mengolah sampah daun menjadi penghias dan pemercantik alat rumah tangga mendapat apresiasi yang baik dari para konsumen. Bahkan, hasil kreasi Nanik telah merambah pasar luar negeri.

Bersama beberapa mahasiswa ITS yang menjalankan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), Nanik memberikan pelatihan kepada kaum ibu di kelurahan Wonorejo tentang resep suksesnya dalam mengelola sampah daun itu.

Nanik mengatakan, proses pengolahan sampah dimulai dengan merebus daun dalam air mendidih yang telah dicampur asam sitrat. Hal ini bertujuan agar daun tampak cantik berwarna coklat.

"Selanjutnya, daun dikeringkan dengan cara disetrika. Daun siap dijahit atau ditempelkan di peralatan rumah tangga. Dengan begitu, sampah daun memiliki nilai jual lebih tinggi," ujar Nanik, seperti disitat dari ITS Online, Sabtu (6/4/2013).

Sementara itu, Ketua Kelompok PKMM ITS Alifia Nurrizky Virrayani menyebut, apa yang dikerjakan Nanik sejalan dengan apa yang sedang mereka kembangkan. ''Saat ini kami sedang mengembangkan Mangrove Leaves Craft,'' ujar Virra.

Mahasiswi Jurusan Arsitektur itu menjelaskan, proyek yang tengah mereka jalankan dilatarbelakangi oleh sampah daun di kawasan mangrove Wonorejo yang tidak terorganisasi dengan baik. Memanfaatkan kondisi tersebut, maka Virra pun memberdayakan masyarakat sekitar untuk memperoleh penghasilan dari barang yang dianggap tidak berguna.

"Petugas kebersihan saja tidak ada. Maka, kami ingin sampah daun ini bisa menjadi barang kerajinan yang memiliki nilai jual oleh masyarakat Wonorejo ini,'' ungkapnya.

Setelah pelatihan tersebut, Virra berencana akan melakukan monitoring terhadap para peserta untuk keberlangsungan programnya. Dia berharap, ke depan, hasil karya para ibu di Wonorejo dapat dipamerkan secara luas.

''Kami tetap monitoring seminggu sekali agar kegiatan ini mencapai tujuannya. Setelah itu hasil nyata dari peserta akan kita pamerkan,'' tutup Virra. Margaret Puspitarini (mrg)
 

Mobil 'Sapu Angin' Mahasiswa ITS Berlaga di Jepang dan Australia

Dua mobil hasil kreasi mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, yang diberi nama Sapu Angin, akan mengikuti kompetisi tingkat dunia di Jepang dan Australia, pada September dan Oktober 2013 mendatang. Mobil ini bahkan mampu melaju hingga 100 km/jam.

Hal ini disampaikan GM Team Sapu Angin, Arif Aulia Rahhman saat ditemui detikcom usai menjadi pembicara dalam talkshow Get Inspired yang digelar BBC Indonesia, bekerjasama dengan Detikcom dan radio SmartFm, di gedung FIS Fak Ekonomi Universitas Hasanuddin, Senin (11/3/2013).

"Mobil Sapu Angin mesin 600 cc akan mengikuti Speed Formula Student, pada september di Jepang dan pada Oktober mobil Sapu Angin Surya yang bertenaga matahari akan mengikuti kejuaraan dunia di Australia," ujar Arif.

Mobil Sapu Angin Surya yang saat ini masih dalam proses perakitan menggunakan panel tenaga surya yang mampu dipacu hingga 100 kilometer perjam. Energi sinar matahari ditampung dalam baterai yang akan menggerakkan mesin mobil.

Sebelumnya, mobil Sapu Angin telah menjuarai Shell Eco Marathon di tingkat Asia selama tiga tahun berturut-turut, dari tahun 2010 hingga 2012, yang digelar di Sepang, Malaysia. Mobil Sapu Angin ini diklaim mampu menempuh jarak 300 km dengan menggunakan bahan bakar solar 1 liter.

"Kami berharap pihak pemerintah dan pengusaha mau memberi bantuan agar mobil hasil kreasi tim kami bisa diproduksi secara massal, mobil Sapu Angin ini cocok untuk warga perkotaan, karena paling irit dan ukurannya ramping," tambah Arif.

Sementara itu dalam acara yang sama, Ari Angga Rochim yang merupakan pengembang Angklung Robot (Klungbot) dari Institut Teknologi Bandung didaulat sebagai pembicara dalam talkshow ini, mengakui teknologi Kinect sensor temuannya yang bisa memainkan Angklung secara otomatis akan diproduksi massal pada tahun ini. "Sudah ada beberapa hotel dan lembaga yang sudah memesan Klungbot, tergantung ukuran dan jumlah oktafnya, kisaran Rp 9 juta hingga Rp 19 juta," pungkas Ochim.

Dalam talkshow Get Inspired yang digelar di Makassar ini, setelah sebelumnya sukses di Denpasar, para mahasiswa Unhas peserta talkshow dipancing untuk mengeluarkan ide-ide segar. Beberapa ide mahasiswa yang dijaring oleh pihak BBC Indonesia seperti baju anti ketek basah dan sepeda motor yang memakai atap anti air hujan. Muhammad Nur Abdurrahman - detikNews
 

Bapak Automotif ITS - M Nur Yuniarto

M Nur Yuniarto sedang memberikan sambutan pada waktu peluncuran Moblis ITS
Kecintaan kita terhadap suatu bidang menjadi motivasi terbaik untuk berinovasi di bidang tersebut. Hal ini pula yang dirasakan Dosen Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Muhammad Nur Yuniarto yang tidak pernah absen berinovasi di dunia automotif.  

Kecintaan mendalam Nur terhadap dunia automotif sejak kecil dibuktikan dengan beragam karya prestatif yang lahir dari tangannya. Mobil Sapu Angin ITS pada 2010 menjadi karya perdana yang dilahirkan ayah dari tiga orang anak tersebut. Tidak tanggung-tanggung karya tersebut menuai prestasi internasional dalam Shell Eco Marathon (SEM) Asia 2010.

Padahal awalnya Nur sama sekali tidak berniat untuk membuat Sapu Angin. Apalagi pihak ITS yang ditugaskan mewakili Indonesia mengikuti Shell Eco Marathon (SEM) pada 2010 menyatakan belum siap mengikuti ajang tersebut.

Namun, melihat semangat mahasiswa Jurusan Teknik Mesin yang begitu besar untuk mengikuti ajang tersebut, Nur pun menjadi luluh. Dia lalu menerima tawaran menjadi dosen pembimbing dan menghubungi pihak pemerintah untuk menyatakan kesiapan kontingen ITS. ''Waktu itu anak-anak datang ke rumah untuk meminta hal itu,'' tutur Nur, seperti dilansir dari laman ITS Online, Senin (18/3/2013).

Selama beberapa bulan, Nur dan 18 anggota timnya mempersiapkan Sapu Angin. Rencana awal, mereka hanya mengirim satu mobil. Tetapi, karena semua anggota tim berhasrat untuk pergi ke Malaysia, akhirnya diputuskan untuk menambah jumlah mobil yang akan dilombakan. ''Kami mengirim untuk kategori Urban dan Prototipe,'' katanya.

Tak dinyana, dua mobil Sapu Angin yang sebelumnya tidak difavoritkan justru keluar sebagai kontingen terbaik Indonesia untuk masing-masing kategori. Bahkan, Sapu Angin kategori urban keluar sebagai juara umum untuk kendaraan berbahan bakar bensin. ''Itu merupakan momen yang luar biasa bagi saya,'' tutur dosen yang berprofesi sebagai konsultan tersebut.

Memasuki 2011, Nur keluar dari tim Sapu Angin. Langkah ini ditempuhnya guna memfokuskan pikiran terhadap proyek penelitian Engine Controller Unit (ECU). Nur menyebut, awalnya, ECU yang dipakai untuk penelitian adalah ECU mobil. Namun, karena  jumlah modifikator motor lebih banyak dari pada modifikator mobil.

"Akhirnya ECU motor yang dipakai sebagai bahan penelitian. 'Saat ini alat tersebut sudah jadi dan siap kami pasarkan,'' ungkap Nur.

Namun, jiwa Nur yang menyukai tantangan lebih besar daripada hasrat fokus terhadap satu obyek saja. Pada tahun yang sama, pemerintah membentuk tim mobil listrik nasional (Molinas) yang digawangi lima perguruan tinggi nasional, yakni ITS, Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Universitas Indonesia (UI), dan Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS).

Dari ITS, pencipta tricycle surya ini ditunjuk sebagai perwakilan. Tanpa berpikir panjang, Nur langsung menerima tawaran tersebut. Sebagai langkah awal, dia membuat proyek mobil listrik untuk dilombakan pada ajang Indonesia Energy Marathon Competition (IEMC) tahun lalu. Hasilnya tak terlalu mengecewakan, mobil listrik yang diberi nama Sapu Angin Electric Zero Emision Vehicle (SAE_ZEV) tersebut, berhasil menduduki posisi kedua dalam ajang yang baru digelar pertama kali itu.

Tidak puas dengan SAE_ZEV, Nur akhirnya membentuk tim baru guna mengerjakan proyek mobil listrik berikutnya dengan desain yang lebih sporty. Agar proyek tersebut bisa rampung tepat waktu, mereka menjadikan siang sebagai malam dan malam mereka jadikan siang. Pola kerja yang mirip pola hidup kalong itu menginspirasi Nur dan timnya untuk menyebut tim mereka sebagai tim kelelawar.

Pada 26 Januari silam, mobil yang diberi nama EC-ITS tersebut resmi diluncurkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh. Mobil listrik kedua karya Nur pun berhasil memukau publik nasional dan menjadi perbincangan utama di berbagai media dalam negeri selama beberapa hari.

Bahkan, mobil berwarna putih ini digadang-gadang akan diproduksi massal. Tak hanya itu, pada saat pelaksanaan Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) 2013 di Bali pada Oktober mendatangi, mobilnya juga akan menjadi salah satu kendaraan resmi yang digunakan.

"Masih banyak kekurangan pada EC-ITS yang perlu diperbaiki. Sehingga proses penelitian dan pengembangan masih akan terus dilakukan agar performa mobil semakin sempurna, terutama dari segi keamanan," imbuh Nur. (Margaret Puspitarini-Okezone Kampus)



 

Mobil Listrik Nasional

Mobil Listrik EC Karya ITS
Sejak  mobil Kiat ESEMKA  dberitakan di media massa, pembicaraan mengenai mobil nasional mengemuka kembali.  Berita itu sedikitnya menjadi penawar harapan akan suatu karya bangsa  yang bisa bermanfaat bagi bangsa dan patut dibanggakan. Kehebohan sebagai reaksi atas kenyataan ketidak-berdayaan kita menghadapi penguasaan asing terhadap industri dan pasar otomotif di ladang kita sendiri saat ini. Anggap saja kita sepakat bahwa yang disebut MOBNAS  adalah kendaraan yang majikannya adalah pengusaha lokal yang berkuasa atas kepemilikan merk lokal sehingga berkuasa menentukan nasib dan keberadaannya di pasar.

Kita semua berharap MOBNAS hadir bermartabat menjadi wahana pengembangan kemampuan dan kapasitas industri baru, sehingga efektif jadi alat mencerdaskan dan menyejahterakan bangsa. MOBNAS harus bawa manfaat, tidak boleh sekedar lahir tetapi kemudian tidak berkembang sehingga  menjadi beban bagi masyarakat. Ukurannya jelas, penjualannya berkembang karena kualitas barangnya tepat seperti yang diharapkan sehingga  orang mau beli. Investasi yang akan dikeluarkan harus benar benar diamankan dengan argumentasi alasan dan perencanaan yang matang secara profesional. 
                                                                                                                        
Sayangnya, cerita pendatang baru lokal terakhir ini tampaknya tidak terlihat adanya persiapan untuk bisa penetrasi pasar dan berada selamat di dalamnya. Atau mungkin peluncuran wacana ini terlalu gempita oleh berbagai opini yang tidak konfirm, padahal sebetulnya baru tahap prototype. Sehingga secara teknis dan business belum ada persiapan serius untuk siap produksi. Tanpa persiapan yang matang MOBNAS akan dibilang dolanan, obong obong, jatuh menjadi cemoohan orang. Momentum MOBNAS akan hilang.

Yang masih perlu terus diperdebatkan adalah wacana apa MOBNAS dan bagaimana sebaiknya MOBNAS ini dihadirkan. Apakah perlu MOBNAS masuk di mainstream pasar terbesar MPV dan SUV? Perlukah MOBNAS ditangani langsung oleh BUMN atau diserahkan saja kepada swasta? Bisa saja nanti akan ada banyak MOBNAS yang bisa mengisi pelangi berbagai kebutuhan yang ada. Tetap penting untuk dikawal agar investasi MOBNAS tepat guna agar bisa benar benar jadi kebutuhan sehingga mampu berkembang. Dalam hal ini publik berkepentingan agar investasi yang terjadi bukan akan menjadi suatu proyek lain yang teronggok. Hidup sukar mati tak mau, karena hanya sekadar memenuhi keharusan birokrasi tanpa passion dan kecintaan terhadap produk atau pekerjaan itu sendiri. Padahal kalau pemerintah mau ikut campur masuk industri ini, berarti uang itu uang rakyat, uang kita juga. Kata orang, memang paling enak usaha dengan memakai uang orang lain, bukan uang sendiri.

Salah satu yang terpenting dan kritikal  dalam memasuki bisnis otomotif ini adalah definisi produk MOBNAS itu sendiri. Diberitakan baru baru ini wacana menteri pengawasan BUMN  Dahlan Iskan untuk  mengalokasikan anggaran Rp.5 Triliun untuk MOBNAS dengan kiat melompat ke depan, dengan wujud mobil listrik untuk menjawab sekaligus masalah alternatif energi selain BBM yang semakin langka, aspek lingkungan dan sebagainya.

Untuk jangka panjang memang diperkirakan mobil listrik akan menjadi kebutuhan yang lebih besar, tetapi kenapa tidak semua mobil sekarang dibuat mobil listrik saja?  Betulkah dalam 5 tahun kedepan mobil listrik adalah benar benar mobil yang kita perlukan?                                                                            

Perlu dicermati apa sebenarnya kendalanya sehingga mobil listrik belum berjaya sampai sekarang. Debat klasik mengenai hal ini bergulir terus sampai sekarang.

Ada beberapa alasan yang biasa dipakai sebagai perbandingan mobil listrik terhadap mobil yangmenggunakan BBM.

OPERASIONAL MOBIL  LISTRIK.

Pertama, aspek operasional. Mobl listrik yang ideal, sebenarnya bila mobil itu sepenuhnya menggunakan energi listrik (Istilahnya mobil listrik plug-in). Mobil listrik plug-in ini punya dua kemungkinan sumber energi: pertama langsung dihubungkan dengan jaringan kabel, seperti trem jaman dulu. Pilihan ini membuat kendaraan listrik itu tidak bebas manuver. Cara lain, agar lebih bebas bergerak, mobil listrik  membawa batere penyimpan energi sementara untuk menggerakan motor listrik yang memutar roda. Ternyata pilihan inipun masih memiliki banyak kendala. Terutama dari kelemahan teknologi baterenya yang masih belum bisa diatasi sampai saat ini. Harga awal mobil listrik masih tinggi. Biaya operasi tinggi karena harus sering ganti batere.  Charging batere rata rata harus 8 jam,  bisa dipercepat menjadi setengah jam dengan charger khusus, tetapi memperpendek umur batere. Akselerasi mobil listrik belum memuaskan dan jangkauan operasi masih terlalu pendek, rata rata 150 mil tanpa isi kembali.  Kalau batere kehabisan listrik di jalan juga Juga akan jadi masalah, diperlukan infrastruktur pelayanan agar bisa charging di jalan.

Karena kelemahan kelemahan di atas, maka diperkenalkanlah kombinasi sumber daya dengan tetap menggunakan  bantuan mesin bensin atau diesel biasa yang digabungkan dengan sistem penggerak motor listrik, atau biasa disebut sistem Hybrid Elektrik. Ada yang dinamakan Hybrid elektrik seri, di mana mesin bensin atau mesin diesel tidak langsung menggerakkan roda. Contohnya Chevrolet Volt yang cukup populer di Amerika saat ini. Seperti di lokomotif kereta api diesel, mesin BBM memutar generator yang mengisi batere, dan listrik dari batere memutar motor listrik penggerak roda. Dengan demikian BBM masih diperlukan, tetapi mesin bensin atau mesin diesel bisa diatur bekerja di daerah putaran dengan efisiensi hemat bahan bakar tertinggi.  Jadi bahan bakar lebih hemat dari mobil biasa. Tapi sistem ini perlu batere banyak dengan berat sekitar 180 kg dan makan ruangan. Sehingga masih mahal untuk saat ini.

Selain itu ada hybrid elektrik paralel, dimana mesin BBM dan motor listrik bekerja bergantian. Contohnya Toyota Prius yang juga dipasarkan di Indonesia. Dengan sistem kontrol elektronik, mesin BBM bekerja bila dipelukan beban yang tinggi dan  motor listrik bekerja ketika lonjakan beban relatif tidak besar.  Ada yang mencoba Hybrid dengan menggunakan fuel cell turunan teknologi ruang angkasa sebagai generator hydrogen untuk menghasilkan listrik. Bila dibandingkan mobil dengan mesin BBM, tentu saja sistem hybrid seperti ini lebih rumit sehingga masih mahal. Cara Hybrid ini berkembang pesat sebagai pilihan lain karena kinerja batere belum memuaskan dan perkembangan perbaikan batere terasa sangat lambat.

PERBAIKAN BATERE

Kelemahan batere mobil lisrik dan sistem kontrolnya masih jadi biang keladi kalahnya mobil listrik dibanding mobil BBM.  Sekarang orang lain sedang berpacu untuk meningkatkan jangkauan operasi mobil listrik 100% dari rata rata 150 mile ke 300 mile. Ultra kapasitor berkapasitas besar dikembangkan terus dalam sistem kontolnya agar tersedia daya besar sesaat untuk tarikan mobil listrik agar bisa melesat, berakselerasi baik dalam memenuhi kondisi operasi yang berubah tiba tiba.

Waktu pengisian yang rata rata 8 jam dengan listrik rumah saat ini terlalu lama. Penelitian penelitian dilakukan dengan target mencapai kecepatan 40 sampai 100 kali lebih cepat dari sekarang. Salah satu cara dengan merendam bahan batere dalam suatu jenis larutan tertentu agar bisa mempercepat pengisian.
                                                                                                                                                         
Waktu hidup batere idealnya adalah lebih dari 8 tahun, agar batere tidak harus sering diganti sehingga merusak pemasaran mobil listrik seperti saat ini. Berbagai jenis batere digunakan, tetapi yang paling populer sementara ini adalah Lithium Ion seperti batere komputer laptop.  National University of Singapore tahun lalu menemukan bahan yang biaya per kWh secara skala produksi bisa diharapkan seperempat dari biaya pembuatan batere Li-Ion saat ini dengan kinerja yang sama. Bahan ini masih dalam penelitian laboratotium, masih jauh ke komersialisasi. Kalau bahan ini nanti sudah bisa diproduksi secara  massal, biaya mobil listrik akan lebih murah sehingga prospek mobil listrik akan lebih cemerlang.

ASPEK  LINGKUNGAN.

Karena mobil listrik tidak menggunakan BBM maka dianggap lebih bersih lingkungan. Pandangan ini tidak sepenuhnya benar karena sebagian polusi yang terjadi dari emisi yang terjadi di kendaraan berpindah ke polusi yang terjadi di pembangkit tenaga listrik yang banyak menggunakan minyak diesel atau batubara sebagi pembangkit listrik.  Belum lagi perlu disiapkan fasilitas penanganan limbah padat batere bekas yang berpotensi mencemari tanah bila dibuang begitu saja. Penangann ini perlu biaya besar sehingga harus diperhitungkan dalam assessment investasi total sistem pengadaan energi untuk mobil listrik.

Bila penggunaan mobil BBM beralih ke mobil listrik, pembangkit listrik harus disiapkan dalam waktu singkat untuk memenuhi kebutuhan listrik. Perlu konsep menyeluruh agar secara total aplikasi mobil listrik ini lebih murah, efisien  dan sederhana dibandingkan dengan pemakaian BBM saat ini. Investasi ini harus juga memperhitungkan fasilitas untuk melayani pengisian batere di jalan. Pada awal tahun 90an, untuk mengantisipasi perkembangan mobil listrik di Amerika yang sedang hangat saat itu, Singapura mempersiapkan infrastruktur pelayanan terhadap mobil listrik ini. Sehingga bila mobil listrik hadir, Singapura akan siap melayaninya. Pendekatan cermat yang jauh berbeda dengan cara persiapan  kita pindah dari BBM ke gas.

WAKTU YANG TEPAT.

Perbedaan mobil biasa dengan mobil listrik sebenarnya hanya di pembangkit daya dan penerus dayanya saja (mesin dan power trainnya). Sehingga untuk MOBNAS mulai sebetulnya bisa saja dipersiapkan menggunakan  BBM dulu dan sementara dipersiapkan ke listrik bila teknologi sistem listrik sudah lebih matang nanti.

Sebaiknya secara paralel LEN atau LIPI melanjutkan  studi kelistrikan untuk aplikasi mobil listrik agar betul betul terbukti secara komersial  sistem penunjang kelistrikan mobil listrik ini bisa handal dan praktis digunakan. Bila tidak handal dan tidak murah MOBNAS listrik hanya lahir untuk menderita karena tidak akan laku dijual di pasar yang sensitif terhadap harga.
 
 
Support : Creating Blog | Kojack | Dewa Yuniardi
Copyright © 2012 - 2016. Blog IKA - ITS Jakarta Raya - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger